
1. Tahu tapi tidak mempraktekkannya itu tidak berguna.
Tradisi hari pertama, senior memperlakukan murid baru layaknya hamba. Mereka disuruh melakukan apapun sesuai perintah senior, bahkan dipermalukan. Tapi saat pelaksanaan itulah Rancho tiba, bukan main girang senior mendapatkan seorang lagi korban, ah, bukan korban sebenarnya, tapi malapetaka. Karena dari sekian banyaknya murid baru, hanya satu ini yang tak mau diatur. Ia malah kabur ke kamar saat mereka lengah.
Takut jatuh wibawanya, senior menggedor-gedor pintunya dan mengancam akan mengencingi pintu kamarnya selama satu semester jika Rancho tidak keluar, tapi Rancho bukannya takut. Malah mencari akal untuk membalas kebiadabannya. Karena Rancho tak keluar juga setelah hitungan kesepuluh, dan demi harkat martabatnya terhadap sesama senior serta menunjukkan komitmennya akan kata-katanya pada murid baru bahwa ia bukan main-main, ia pun nekat mengencingi pintu kamar Rancho. Raju dan Farhan selaku teman sekamarnya bimbang jika harus mendapatkan bau itu setiap pagi. Tapi rupanya Rancho yang bijak telah memasang jebakan darurat saat senior menghitung. Saat senior mengencingi pintu kamarnya, tak bisa dielakkan aliran listrik dari jebakannya menyambar ke properti keramatnya. Senior itu teriak sekuatnya sambil berguling-guling.
Semua tahu, bahwa air garam adalah penghantar listrik yang baik. Itu pelajaran SD, tapi tak semua mempraktekkannya.
Sebenarnya bukan itu saja, semua cabang ilmu yang kita pelajari dan ketahui tapi tidak kita praktekkannya itu sia-sia saja. Tak ada gunanya. Bertahun-tahun menimba ilmu dari SD sampai perguruan tinggi, jika tidak digunakan apalah artinya. Nonsense.
2. Persahabatan itu lebih penting dari orang itu sendiri.
Raju tak terima karena ayahnya yang sekarat dibawa Rancho ke rumah sakit dengan menggunakan scooter Phia. Ia protes terhadap Rancho atas perlakuan itu. Sungguh tidak wajar menurutnya. Tapi ternyata cara Rancho telah menyelamatkan nyawa ayahnya. Jika harus menunggu ambulan yang selalu telat datangnya, mungkin dokterpun tak bisa lagi berbuat apa-apa untuk membantu ayahnya. Betapa terharu ia mengetahui hal itu, dan ia pun meminta maaf.
Rancho rela meninggalkan apapun untuk sesuatu kepentingan yang menyangkut temannya. Berkorban untuk keberhasilan temannya. Bukan seperti Silencer yang begitu mementingkan nilainya hingga harus berbuat dengki. Apalah artinya pintar jika tak bisa memiliki teman. Maka persahabatan itu lebih penting dari orang itu sendiri. Tak ada artinya seseorang itu tanpa sahabatnya, seperti tunggul saja.
3. Donkey, itu yang pantas bagi budak materi.
Inilah yang terjadi pada pendidikan dewasa ini. Tujuan pendidikan menjadi sangat materialis, bukan lagi memanusiakan manusia, membina akhlaqul karimah, maka tak heran jika korupsi merajalela dinegeri ini, semakin licik saja mereka membelit fakta.
Orientasi pendidikan sesungguhnya sangat mulia, tapi iming-iming kesuksesan yang sangat materil itu membuat segalanya jadi ancur. Sehingga melupakan kemuliaan kemanusiaan. Itulah yang dilakukan Chatur, si pemakan petai, silencer. Ia tak pernah peduli pada orang lain, yang penting baginya ia menjadi nomor satu, apapun caranya.
Suhas, tunang Phia ternyata juga budak harta. Ia sangat membanggakan kekayaan yang dimilikinya. Ia merasa bisa membeli segalanya dengan uang, tapi ia salah, akhirnya ia harus kehilangan Phia karena memarahi Phia yang menghilangkan arloji super mahal yang dibelikannya. Ia mendapat panggilan spontan Donkey dari Phia, tunangannya sendiri, tepat didepan matanya.
4. Jangan mengejar kesuksesan, tapi kejarlah kesempurnaan dan kesuksesan akan mengikutimu.
Rancho selalu berpesan kepada dua sahabatnya, Farhan dan Raju, untuk tidak mengejar kesuksesan, tapi kejarlah kesempurnaan dan kesuksesan akan mengikuti.
Memasang target sukses memang bukan hal mudah untuk mencapainya. Tapi nilai sukses itu sendiri sangat relatif. Ketika kita melihat orang kaya raya, bolak-balik ke luar negri, sering tour ke Bali, tapi bukan berarti ia seorang yang sukses menurutnya sendiri. Bisa saja ia pergi keluar negeri karena stres dengan urusan yang tak pernah selesai. Ia banyak pikiran dan ingin melupakan masalah hidupnya untuk sebentar.
Memasang target kesuksesan membuat kita berpacu dan tertekan, seperti pemain bola yang hendak memasukkan ke gawang lawan, sedangkan pemain lawan terus menerus menghalangi, dan waktu semakin menipis, hingga ia harus memeras tenaga agar dapat mencapai targetnya. Jika yang diperas adalah pikiran, bisa-bisa orang stres. Gila.
Jadi, kejarlah kesempurnaan. Just do the best…! nikmatilah permainan itu.
5. Sederhana, jangan sombong terhadap orang yang tak dikenal.
Jika dilihat dari sudut pandang perlakuan mahasiswa terhadap dosennya ini memang keterlaluan. Tapi lihatlah sebagai pelajaran penting bagi orang yang berwenang agar tidak sombong.
Si tiga idiot ini terlambat karena harus menjaga ayah Raju dirumah sakit. Mereka kesiangan untuk mengikuti ujian. Hingga saat waktu habis mereka belum bisa mengumpulkan jawaban. Ia molor hingga satu setengah jam dari waktu yang ditentukan. Sementara dosen sibuk menyusun jawaban sesuai dengan nomor urutnya, mereka berhasil juga menyelesaikan. Tapi sang dosen tak terima karena mereka terlambat, bahkan terlalu lewat. Dosen bersikukuh tak menerima walau ia anak Perdana Menteri sekalipun.
Masalahnya bukan mereka anak orang hebat, tapi karena dosen tidak mengenali mahasiswanya. Ini menjadi peluang emas bagi Rancho dan kawan-kawannya, ia mengacak-acak kertas jawaban yang telah susah payah disusun sang dosen dan terus melarikan diri. Terpaksalah ia mengatur kembali dan menerima semua kertas jawaban itu karena ia tak mengenali siapa mereka.
6. Jangan memperkosa ilmu pengetahuan, fahami dan nikmatilah.
Menghafal mungkin menghemat waktumu disekolah, tapi akan menyiksamu seumur hidup. Menghafal hanya akan menambah beban otak dan tertekan, bahkan membuat fikiran buntu hingga membunuh kreatifitas manusia untuk berkarya. Menghafal tanpa memahami berarti memperkosa ilmu pengetahuan. Bagaimana tidak, dengan menghafal hanya mempercepat kelulusan, tapi tidak pernah mengembangkan ilmu itu sendiri. Jika yang dipelajari tentang resep masakan, maka seumur hidup hanya makanan itulah yang dimasak. Tidak inovatif.
Jadi memahami akan lebih mudah dan ini akan membuat lebih nikmat ilmu pengetahuan itu. Manusia yang selalu ingin tahu akan sering bereksperimen sendiri, membuat karya-karya baru yang berguna.
7. Aal izz well, hati manusia itu selalu takut.
Percaya atau tidak, ini pasti dialami. Bagi yang optimis mungkin takkan membiarkan dirinya disiksa hanya untuk masa depannya. Raju adalah karakter yang menjadi contoh dalam film ini. Kehidupan dan tanggung jawab akan keluarganya membuat ia bimbang dan takut untuk mengambil keputusan. Ketakutannya membuat prestasinya merosot, tapi karena Rancho dan Farhan selalu memberinya semangat, ia kembali bergairah. Ia semakin yakin setelah wawancara yang digelar oleh perncari kerja.
Saat wawancara, ia mengatakan sejujurnya, seadanya. Tak ada yang dikurangi dan ditambah. Ia mengatakan bahwa ketakutannya membuat nilainya hancur, kepercayaan dirinya hilang. Ia juga mengatakan kenapa ia sampai lumpuh. Jika sebelumnya ia berdoa banyak meminta ini-itu kepada dewa, kini ia hanya bersyukur atas kehidupan yang diberikan.
Masa depan memang misteri, tapi bukanlah untuk ditakuti. Tempuhilah dengan penuh kenikmatan karena setiap tantangan akan membuat hidup lebih berwarna. Maka nikmatilah hari yang kau miliki, dan lakukan yang terbaik. Selebihnya biarlah Tuhan yang mengaturnya.
8. Jadilah diri sendiri. Be your self…!
Farhan tak bisa meyakinkan ayahnya bahwa ia tak berbakat dibidang Engineering. Ia adalah seorang fotografer alam liar, tapi karena sang ayah bimbang akan masa depan profesi seperti itu, ayahnya tetap juga mengirimkannya ke ICE.
Meski keahlian itu bisa dilatih, tetapi jika dipaksakan pemerkosaanlah yang akan terjadi. Farhan tak bisa belajar dengan kenikmatan. Maka nilainya selalu berada dirangking paling bawah, lebih unggul sedikit diatas Raju. Tentu saja, karena pikirannya berkelana ke Afrika saat sedang dikelas.
Maka itu jadilah diri sendiri, kita tak pernah bahwa kita adalah orang yang hebat jika kita tak pernah mencobanya. Keistimewaan itu adalah saat kita meyakini bahwa itu istimewa.
Karena sesungguhnya, bukan uang banyak yang dibutuhkan manusia, melainkan kedamaian dalam hati. Biar penghasilan kecil, rumah kecil, mobil kecil, jika kita menyenanginya, mensyukurinya, itu menjadi nikmat yang tak terkira.
Yap, sob. Begitulah, kuharap ini bisa memberi manfaat pada teman-teman semua. Saya yakin masih banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini. Dan negatifnya pasti juga ada, saringlah: buang yang keruh, ambil yang jernih. Maka akan lebih nikmat diminum. Semoga bermanfaat. Terimakasih.
By: jr ratubadis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar