Jumat, 24 November 2017

Persahabatan, Cinta, Impian Dan Nasionalisme

Persahabatan, cinta, impian, nasionalisme, itulah yang dapat dipetik pelajaran dari sebuah film dari Rizal Mantovani berjudul “5 cm”, yang disadur langsung dari novel karya Donny Dhirgantoro. Dalam kehidupan kita, seorang teman, sahabat merupakan bagian terpenting yang mewarnai perjuangan hidup ini. Semua orang, saya rasa tahu tentang arti persahabatan itu, waloupun tak semua merasakannya. Para pendahulu kita, orang tua misalnya, punya segudang cerita dan kenangan terkait hal yang satu ini. Dan bagaimana mereka menjadi lebih hidup, lebih bersemangat, karena orang-orang yang dicintai selalu saling mendukung, memberi motivasi dalam perjalanan hidup ini...



Mungkin semua pengalaman tersebut dapat terwakili dalam kisah lima sahabat dalam film “5 cm”. Film ini bercerita tentang persahabatan 5 mahasiswa yang tetap awet sampai 10 tahun. Mereka antara lain Genta (Fedi Nuril), seorang jenius yang selalu membuat terobosan dlm mimpim-mimpinya, Arial (Denny Sumargo), sahabat paling kekar yang tidak pernah ketinggalan “kecap”nya disetiap menu makanan, Riani (Raline syah), satu-satunya cewek dalam persahabatan ini, cantik, cerdas dan mimiliki kebiasaan “membajak” kuah mie temannya, Ian (Igor Saykoji), si gendut yang hobi banget maen game, makan mie, inilah yang membuat ia ketinggalan menyelesaikan kuliahnya, dan Zafran (Herjunot Ali)yang mengaku paling keren, seorang seniman yang gila dengan puisi dan syairnya. Yang menarik, usaha kerasnya mendekati cewek, Adinda (Pevita pearce) sebagai adek Ariel.

Genta sebagai leader memiliki ide untuk berpisah sementara selama 3 bulan, dan untuk merayakan reoninan pertemuan mereka kembali, petualangan dimulai. Mahameru sebagai puncak tertinggi gunung Semeru, puncak tertinggi pulau Jawa, menjadi tempat yang akan tak terlupakan sebagai petualangan mereka. Disinilah sebenarnya inti cerita film ini, yaitu persahabatan, cinta, mimpi dan Nasionalisme.

Semuanya terwakili dalam statment motivasi sebelum mereka memulai pendakian,

“kita perlu kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya (Genta), mata yang akan menatap lebih lama daripada biasanya (Ian), leher yang akan lebih sering melihat ke atas (Ariel), lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja (Riani), hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya (Zafran), serta mulut ayang akan selalu berdoa (Adinda).”

Ungkapan tersebut, dalam tackline lain diperkuat dengan,

“Setelah doa, maka disiplin yang akan membuat kita selamat”.

Wujud sikap persahabatan meraka semakin terasa dalam setiap detik pendakian menuju Mahameru. Beratnya medan dan minimnya pengalaman mereka, sangat membutuhkan sikap yang sebenarnya dari sebuah persahabatan. Mereka dituntut untuk tidak gengsi jika tak kuat melangkah lagi, dan sahabat yang lainnya akan mendekat, menolong, memeluk, seperti ketika Ariel merasa kedinginan yang hebat bagai tertusuk jarum.Seperti ketika Zafran kakinya terluka, semua terluka, Ian yang hampir mati terkena benturan runtuhan batu, semua terluka dan hampir putus asa.

Genta menyerahkan estafet leader kepada Zafran, untuk mencapai Mahameru. Dan Zafran mulai berorasi motivasi semangat dan puitis, “taruh puncak itu, dan kita semua di sini”, biarkan mimpi itu menggantung, sambil meletak jari telunjuk di depan kening dengan jarak 5 cm. Mimpi mencapai Mahameru semakin dekat, dan luar biasa bahagianya mencapai puncak gunung Semeru, Mahameru. Mencapai puncak sebagai simbol impian-impian mereka. Puncak dimana mereka sadar akan kekayaan negeri, Indonesia, dan memacu untuk menjaga dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Puncak dimana mereka terkesima melihat “lukisan alam”, mereka merasa kecil dan bersyukur oleh ciptaan sang Pencipta yang Agung.

Tepat tanggal 17 Agustus, seperti di sebagian besar puncak gunung di Indonesia sering diadakan upacara bendera untuk memperingati hari kemerdekaan, mereka berikrar dan bersumpah sebagai anak negeri dan bangsa Indonesia. Sebagaimana ikrar semangat nasionalisme ala Ian;

“Saya Ian, saya bangga bisa berada di sini bersama kalian semua... Saya akan mencintai tanah ini seumur hidup saya,... saya akan menjaganya dengan apapun yang saya punya, saya akan menjaga kehormatannya seperti saya menjaga diri saya sendiri... Seperti saya akan selalu menjaga mimpi-mimpi saya terus hidup bersama tanah air tercinta ini...... ...yang berani nyela' Indonesia... ribut sama gue..!”

Mereka sadar bahwa mereka lahir dan besar makan dari tanah Indonesia, minum dari air Indonesia, hidup dari kekayaan alam Indonesia. Hingga akhirnya, Ian sadar dan membatalkan rencananya ingin meneruskan studi di Manchester, England dan memutuskan melanjutkan hidup bersama Indoensia.

Dan sebenarnya, “perjalanan menuju Mahameru adalah perjalanan hati”, keyakinan yang kuat dan memandu menapaki hidup yang indah ini.

Refleksi

Ditengah derasnya produksi film horor-esekesek di industri perfileman Indonesia, seperti film-film yang bertema nasionalisme, sejarah dan kearifan lokal,“5 cm” juga ikut andil dalam membasmi sisa-sisa kejayaan film-film horor indonesia dan kemegahan film-film Barat. Syuting yang dilakukan di ketinggian 3.676 m dpl (di atas permukaan laut), di puncak yang mendapat julukan Langit Pulau Jawa, adalah pertama kali dalam film Indoensia. Dan yang jelas, film adalah salah satu film bertama nasionalisme lain yang akan menambah rasa cinta pada negeri ini.

Unsur drama cinta segi empat oleh Genta, Riani, Zafran, Adinda dan unsur comedy membuat cerita film ini romantis dan menghibur, meledakkan tawa penonton.Cinta yang bersemi antar sahabat itu, berhasil membuat penasaran dan memunculkan ending yang tak terduga. Hal yang membuat lucu adalah gabungan unsur romantic-comedic, seperti strategi-strategi Juplek atau Zafran dalam mendapatkan cinta adinda, tapi malah ditanggapi kaku dan lugu. Hingga munculnya Happy Salma, yang semula ada pada poster dan khayalan-khayalan Ian, menjadi kenyataan di akhir cerita, ini sangat membuat geli (memang akhir-akhir ini Happy Salam sering menjadi bintang tamu dalam film-film bagus Indonesia).

Dan saya memahami, itu merupakan jawaban tentang benar tidaknya mitos. Dimana di lereng yang disebut “tanjakan cinta”, orang yang ketika mendaki terus memikirkan orang yang dicintai, maka akan menjadi jodoh. Itu mitosnya, bisa benar bisa salah. Jawaban itu dikemas ketika Juplek memang tidak berjodoh dengan adinda, dan malah si gendut Ian yang terwujud mimpinya menikahi Happy Salma, punya anak lagi,, aduh,, sekali lagi geli.

Tapi itulah comedy-nya, dari awal cerita unsur ini memang bigitu lekat. Dari kebiasan masing-masing sahabat, perjuangan Ian menyelesaikan skripsi, hingga adekan paling tegang pun akhirnya menjadi comedyc. Uh,,, sang sutradara memang begitu cerdas membawa emasi para penontonnya.

Saya sendiri merefleksikan diri sebagai salah satu 5 sahabat tersebut, seperti dalam kehidupan nyata. Dimana saya merasa selalu jadi Ian yang banyak membutuhkan uluran tangan sahabatlainnya. Banyak membutuhkan semangat, karena ketidak percayaan diri. Memang benar, sahabat itu bagai satu jiwa, satu badan. Jika satu sakit, sakit semua, satu jatuh, jatuh semua.

Tentang kepercayaan diri, ini yang sebenarnya menjadi ruh dalam mencapai mimpi. Dengan menyatukan semua indra ditambah doa dan kedisiplinan, selanjut terserah Tuhan. Maka mimpi itu semakin dekat.

Donny memang luar bisa sebagai pencipta cerita, begitu juga Rizal yang sukses mengarahkan para pemain. Tapi yang menjadi catatan di sini, film yang mirip dengan road-movie ini, jika kita membaca novelnya terlebih dahulu, maka akan merasa terputus-putus ceritanya. Dan akan kecewa dengan kurang lamanya perjuangan pendakian. Terkesan ingin cepat sampai. Maka saya sarannya tonton filmnya dulu, jika memang hobi nonton dan suka membaca novel.

Secara keseluruhan, patut diacungi dua jempol karya Rizal Mantovani ini..

Pelajaran Moral film 3 idiots

Film India ternyata tak semata tentang cinta, tetapi ada juga yang memberikan pesan pendidikan yang menarik, lucu dan sangat mengena sekali. Film itu adalah 3 idiots, bukan berarti cerita tentang anak autis, melainkan kisah tiga mahasiswa yang terbaring dalam kamar yang sama membuat mereka akrab. Maka sejumlah ulah pun diperbuatnya, ada yang gokil, lucu, sedih, serta mendidik. Berikut kita simak pesan moral apa yang dapat diperoleh dari film 3 idiots ini:
Farhan, Rancho and Raju Rastogi
1. Tahu tapi tidak mempraktekkannya itu tidak berguna.
Tradisi hari pertama, senior memperlakukan murid baru layaknya hamba. Mereka disuruh melakukan apapun sesuai perintah senior, bahkan dipermalukan. Tapi saat pelaksanaan itulah Rancho tiba, bukan main girang senior mendapatkan seorang lagi korban, ah, bukan korban sebenarnya, tapi malapetaka. Karena dari sekian banyaknya murid baru, hanya satu ini yang tak mau diatur. Ia malah kabur ke kamar saat mereka lengah.
Takut jatuh wibawanya, senior menggedor-gedor pintunya dan mengancam akan mengencingi pintu kamarnya selama satu semester jika Rancho tidak keluar, tapi Rancho bukannya takut. Malah mencari akal untuk membalas kebiadabannya. Karena Rancho tak keluar juga setelah hitungan kesepuluh, dan demi harkat martabatnya terhadap sesama senior serta menunjukkan komitmennya akan kata-katanya pada murid baru bahwa ia bukan main-main, ia pun nekat mengencingi pintu kamar Rancho. Raju dan Farhan selaku teman sekamarnya bimbang jika harus mendapatkan bau itu setiap pagi. Tapi rupanya Rancho yang bijak telah memasang jebakan darurat saat senior menghitung. Saat senior mengencingi pintu kamarnya, tak bisa dielakkan aliran listrik dari jebakannya menyambar ke properti keramatnya. Senior itu teriak sekuatnya sambil berguling-guling.
Semua tahu, bahwa air garam adalah penghantar listrik yang baik. Itu pelajaran SD, tapi tak semua mempraktekkannya.
Sebenarnya bukan itu saja, semua cabang ilmu yang kita pelajari dan ketahui tapi tidak kita praktekkannya itu sia-sia saja. Tak ada gunanya. Bertahun-tahun menimba ilmu dari SD sampai perguruan tinggi, jika tidak digunakan apalah artinya. Nonsense.
2. Persahabatan itu lebih penting dari orang itu sendiri.
Raju tak terima karena ayahnya yang sekarat dibawa Rancho ke rumah sakit dengan menggunakan scooter Phia. Ia protes terhadap Rancho atas perlakuan itu. Sungguh tidak wajar menurutnya. Tapi ternyata cara Rancho telah menyelamatkan nyawa ayahnya. Jika harus menunggu ambulan yang selalu telat datangnya, mungkin dokterpun tak bisa lagi berbuat apa-apa untuk membantu ayahnya. Betapa terharu ia mengetahui hal itu, dan ia pun meminta maaf.
Rancho rela meninggalkan apapun untuk sesuatu kepentingan yang menyangkut temannya. Berkorban untuk keberhasilan temannya. Bukan seperti Silencer yang begitu mementingkan nilainya hingga harus berbuat dengki. Apalah artinya pintar jika tak bisa memiliki teman. Maka persahabatan itu lebih penting dari orang itu sendiri. Tak ada artinya seseorang itu tanpa sahabatnya, seperti tunggul saja.
3. Donkey, itu yang pantas bagi budak materi.
Inilah yang terjadi pada pendidikan dewasa ini. Tujuan pendidikan menjadi sangat materialis, bukan lagi memanusiakan manusia, membina akhlaqul karimah, maka tak heran jika korupsi merajalela dinegeri ini, semakin licik saja mereka membelit fakta.
Orientasi pendidikan sesungguhnya sangat mulia, tapi iming-iming kesuksesan yang sangat materil itu membuat segalanya jadi ancur. Sehingga melupakan kemuliaan kemanusiaan. Itulah yang dilakukan Chatur, si pemakan petai, silencer. Ia tak pernah peduli pada orang lain, yang penting baginya ia menjadi nomor satu, apapun caranya.
Suhas, tunang Phia ternyata juga budak harta. Ia sangat membanggakan kekayaan yang dimilikinya. Ia merasa bisa membeli segalanya dengan uang, tapi ia salah, akhirnya ia harus kehilangan Phia karena memarahi Phia yang menghilangkan arloji super mahal yang dibelikannya. Ia mendapat panggilan spontan Donkey dari Phia, tunangannya sendiri, tepat didepan matanya.
4. Jangan mengejar kesuksesan, tapi kejarlah kesempurnaan dan kesuksesan akan mengikutimu.
Rancho selalu berpesan kepada dua sahabatnya, Farhan dan Raju, untuk tidak mengejar kesuksesan, tapi kejarlah kesempurnaan dan kesuksesan akan mengikuti.
Memasang target sukses memang bukan hal mudah untuk mencapainya. Tapi nilai sukses itu sendiri sangat relatif. Ketika kita melihat orang kaya raya, bolak-balik ke luar negri, sering tour ke Bali, tapi bukan berarti ia seorang yang sukses menurutnya sendiri. Bisa saja ia pergi keluar negeri karena stres dengan urusan yang tak pernah selesai. Ia banyak pikiran dan ingin melupakan masalah hidupnya untuk sebentar.
Memasang target kesuksesan membuat kita berpacu dan tertekan, seperti pemain bola yang hendak memasukkan ke gawang lawan, sedangkan pemain lawan terus menerus menghalangi, dan waktu semakin menipis, hingga ia harus memeras tenaga agar dapat mencapai targetnya. Jika yang diperas adalah pikiran, bisa-bisa orang stres. Gila.
Jadi, kejarlah kesempurnaan. Just do the best…! nikmatilah permainan itu.
5. Sederhana, jangan sombong terhadap orang yang tak dikenal.
Jika dilihat dari sudut pandang perlakuan mahasiswa terhadap dosennya ini memang keterlaluan. Tapi lihatlah sebagai pelajaran penting bagi orang yang berwenang agar tidak sombong.
Si tiga idiot ini terlambat karena harus menjaga ayah Raju dirumah sakit. Mereka kesiangan untuk mengikuti ujian. Hingga saat waktu habis mereka belum bisa mengumpulkan jawaban. Ia molor hingga satu setengah jam dari waktu yang ditentukan. Sementara dosen sibuk menyusun jawaban sesuai dengan nomor urutnya, mereka berhasil juga menyelesaikan. Tapi sang dosen tak terima karena mereka terlambat, bahkan terlalu lewat. Dosen bersikukuh tak menerima walau ia anak Perdana Menteri sekalipun.
Masalahnya bukan mereka anak orang hebat, tapi karena dosen tidak mengenali mahasiswanya. Ini menjadi peluang emas bagi Rancho dan kawan-kawannya, ia mengacak-acak kertas jawaban yang telah susah payah disusun sang dosen dan terus melarikan diri. Terpaksalah ia mengatur kembali dan menerima semua kertas jawaban itu karena ia tak mengenali siapa mereka.
6. Jangan memperkosa ilmu pengetahuan, fahami dan nikmatilah.
Menghafal mungkin menghemat waktumu disekolah, tapi akan menyiksamu seumur hidup. Menghafal hanya akan menambah beban otak dan tertekan, bahkan membuat fikiran buntu hingga membunuh kreatifitas manusia untuk berkarya. Menghafal tanpa memahami berarti memperkosa ilmu pengetahuan. Bagaimana tidak, dengan menghafal hanya mempercepat kelulusan, tapi tidak pernah mengembangkan ilmu itu sendiri. Jika yang dipelajari tentang resep masakan, maka seumur hidup hanya makanan itulah yang dimasak. Tidak inovatif.
Jadi memahami akan lebih mudah dan ini akan membuat lebih nikmat ilmu pengetahuan itu. Manusia yang selalu ingin tahu akan sering bereksperimen sendiri, membuat karya-karya baru yang berguna.
7. Aal izz well, hati manusia itu selalu takut.
Percaya atau tidak, ini pasti dialami. Bagi yang optimis mungkin takkan membiarkan dirinya disiksa hanya untuk masa depannya. Raju adalah karakter yang menjadi contoh dalam film ini. Kehidupan dan tanggung jawab akan keluarganya membuat ia bimbang dan takut untuk mengambil keputusan. Ketakutannya membuat prestasinya merosot, tapi karena Rancho dan Farhan selalu memberinya semangat, ia kembali bergairah. Ia semakin yakin setelah wawancara yang digelar oleh perncari kerja.
Saat wawancara, ia mengatakan sejujurnya, seadanya. Tak ada yang dikurangi dan ditambah. Ia mengatakan bahwa ketakutannya membuat nilainya hancur, kepercayaan dirinya hilang. Ia juga mengatakan kenapa ia sampai lumpuh. Jika sebelumnya ia berdoa banyak meminta ini-itu kepada dewa, kini ia hanya bersyukur atas kehidupan yang diberikan.
Masa depan memang misteri, tapi bukanlah untuk ditakuti. Tempuhilah dengan penuh kenikmatan karena setiap tantangan akan membuat hidup lebih berwarna. Maka nikmatilah hari yang kau miliki, dan lakukan yang terbaik. Selebihnya biarlah Tuhan yang mengaturnya.
8. Jadilah diri sendiri. Be your self…!
Farhan tak bisa meyakinkan ayahnya bahwa ia tak berbakat dibidang Engineering. Ia adalah seorang fotografer alam liar, tapi karena sang ayah bimbang akan masa depan profesi seperti itu, ayahnya tetap juga mengirimkannya ke ICE.
Meski keahlian itu bisa dilatih, tetapi jika dipaksakan pemerkosaanlah yang akan terjadi. Farhan tak bisa belajar dengan kenikmatan. Maka nilainya selalu berada dirangking paling bawah, lebih unggul sedikit diatas Raju. Tentu saja, karena pikirannya berkelana ke Afrika saat sedang dikelas.
Maka itu jadilah diri sendiri, kita tak pernah bahwa kita adalah orang yang hebat jika kita tak pernah mencobanya. Keistimewaan itu adalah saat kita meyakini bahwa itu istimewa.
Karena sesungguhnya, bukan uang banyak yang dibutuhkan manusia, melainkan kedamaian dalam hati. Biar penghasilan kecil, rumah kecil, mobil kecil, jika kita menyenanginya, mensyukurinya, itu menjadi nikmat yang tak terkira.
Yap, sob. Begitulah, kuharap ini bisa memberi manfaat pada teman-teman semua. Saya yakin masih banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini. Dan negatifnya pasti juga ada, saringlah: buang yang keruh, ambil yang jernih. Maka akan lebih nikmat diminum. Semoga bermanfaat. Terimakasih.
By: jr ratubadis

Minggu, 19 April 2015

Hal-hal Yang Dapat Gue Petik Dari Film You Are The Apple Of My Eye


kita manusia harus mengerti batasan yang ada, kita dapat berencana tetapi tetap Tuhan yang memutuskan, seberapa besar cinta kita terkadang tidaklah penting, yang terpenting adalah bagaimana kita memahami, menjalankannya dengan baik, berdoa dan berharap bahwa Tuhan menyukai rencana kita dan mengabulkannya. tetapi jika semua berbeda dengan rencana yang kita telah buat.
Maka, c' mon guys, Busungkan dada kalian, tegakkan kepala kalian, hormati dia selayaknya engkau dulu menghormatinya, jika kita benar - benar mencintainya, kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita. meskipun pahit, tetapi jika kita benar benar mencintainya, pahit pun akan terasa bahagia, karena melihat wanita yang kita cintai tersenyum dan bahagia.